Jemari lentik Fazia menarik kartu hitam dari dompet bermerk sama dengan tas yang hanya dalam hitungan menit akan menjadi koleksi barunya. Self reward adalah kalimat magis yang memacu keinginannya setiap kali ia merasa lelah bekerja di sebuah toko skincare ternama milik sahabatnya, menjabat sebagai manager toko sekaligus tangan kanan sang sahabat untuk mengurus pembelian dan penjualan produk, laporan keuangan serta tetek bengek di toko. Beruntungnya lagi, gadis itu selalu menerima rupiah yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama satu bulan dan terkadang sang atasan memberinya bonus sehingga ia bisa membantu keluarga.
Kemudian, wajahnya berseri-seri ketika menimang koleksi terbarunya yang berwarna beige dan serta merta ia mengunggah sebuah postingan cerita di media sosial, tapi hanya untuk teman-teman dekat saja agar tidak ada yang nyinyir atau banyak berkomentar. Selang beberapa waktu, ada yang mengomentari postingannya dan jurus andalan yang selalu ia ketik ‘Alhamdulillah hasil kerja keras bagai kuda’. Fazia memang sudah lama mengidamkan tas ini untuk diboyong saat liburan ke Bali dan hari Sabtu besok merupakan hari yang sangat tepat.
Seketika gawai flip keluaran terbaru berdering. Tampak nama sang atasan muncul di layar kecil. “Halo, Bu?” jawabnya melenggang meninggalkan outlet.
“Zi, store aman hari ini?”
“Aman, Bu. Tadi ada sekitar dua puluh pembeli.” Ia menatap salah satu etalase toko dan kembali melangkah.
“Alhamdulillah kalau begitu. Eh, besok kamu bisa ke rumahku? Aku ada acara pengajian tujuh bulanan sekitar jam 10 pagi.”
“Yah, maaf, aku nggak bisa datang, Bu. Nanti malam mau ke bandara, teman SMA ngajak ke Bali dan planning-nya udah dari minggu lalu,” ujarnya.
“Happy banget kayaknya di Bali. Perasaan dua bulan lalu udah ke Bali, deh,” kicau sang atasan.
“Aku dibayarin ayah tiri, Bu. Kalau yang sebelumnya dari pacar.” Gadis itu terkekeh.
“Oke, nggak apa-apa kalau nggak bisa datang. Nanti malam hati-hati di perjalanan, ya, bestie!”
“Makasih, Bu Bos terbaik. Semoga lancer acaranya besok pagi.” Fazia mengakhiri percakapan dan langkahnya terhenti menatap manekin berbalut crop tank top putih corak dan kulot putih. “Lucu juga buat besok ke pantai,” gumamnya memasuki toko pakaian ternama.
**
Keesokan paginya, usai sarapan, Fazia, seorang sahabat dan adiknya menyambangi pantai yang lokasinya tidak jauh dari hotel. Gadis itu meminta bantuan sang adik untuk memotret dirinya bersama sang sahabat dan tentu beberapa jepretan dirinya sendiri lalu mengunggahnya di media sosial.
“Enak banget, sih, jadi kamu, punya pacar dan bos royal!” puji gadis berambut diikat seraya menatapa Fazia yang mengenakan sunglass.
“Aku banyak bersyukur aja, lagipula di toko, aku semua yang handle, say. Bu Bos belum mau nambah karyawan juga, katanya mau fokus dulu sama kehamilannya.” Gadis itu menyematkan sunglass di atas kepala.
“Oh, gitu. Anyway, makasih, ya, udah ajak aku liburan ke sini.”
“Iya, sama-sama. Aku ingat omonganmu tempo hari, kalau kamu belum pernah ke sini dan waktunya pas juga karena Dito lagi libur kuliah,” jelasnya. “Udah, yuk, kita shopping. Kamu nanti tinggal pilih aja, aku yang beliin, deh!” kicaunya memanggil sang adik agar bergegas meninggalkan pantai.
Ketiganya tiba di sebuah pusat perbelanjaan dan Fazia tampak kalap. Sang adik hanya menginginkan dua barang yang berasal dari toko itu, begitu pula sahabatnya yang hanya memilih beberapa barang karena merasa sungkan dengan tawaran gadis itu. Ia memang memberi traktiran pada sahabatnya untuk menebus rasa bersalahnya karena sepanjang perjalanan tadi, sang sahabat meminta bantuan pada Fazia agar merekomendasikan dirinya bila toko tempatnya bekerja mencari karyawan baru.
Namun, di dalam hatinya ia menolak mentah-mentah, tentu saja berbanding terbalik dengan yang diucapkan pada sahabatnya, tadi ia mengatakan kalau memang ada lowongan akan diberitahu padanya. Ia tidak mungkin melakukannya sebab jatah yang diterima akan berkurang nantinya, tetapi ia juga berjanji akan mencarikan pekerjaan di tempat lain.
“Duh, lapar, ya, kita makan siang, yuk!” ajaknya semringah dengan tentengan dalam genggamannya. Ia juga sudah merencanakan makan siang di salah satu restoran mewah yang letaknya tak jauh dari tempatnya berada sekarang.
**
Dua hari kemudian, di pagi hari yang mendung ini, pelanggan sudah mengantri di ruang tunggu. Fazia memberikan produk dalam plastik ramah lingkungan dan menerima sejumlah rupiah yang dibayar secara tunai. Dengan cekatan, gadis itu memasukkan sebagian uang ke dalam laci dan sebagiannya lagi ke dalam tasnya.
Lalu, pelanggan berikutnya menyebutkan beberapa jenis produk dan Fazia bergegas masuk ke dalam pintu penghubung di belakangnya untuk menyiapkan orderan. Tak lama, ia membawa benda-benda mungil dalam genggamannya dan memasukkannya dengan hati-hati. Kemudian, ia memberikan scan barcode Q-ris atas nama dirinya pada sang pelanggan yang menginginkan pembayaran non tunai. Beruntungnya segelintir pelanggan lainnya juga menginginkan pembayaran non tunai.
Menjelang pukul 15.00 wib, pelanggan sedikit demi sedikit menghilang dari balik pintu toko dan saatnya Fazia menghitung rupiah yang bertebaran di dalam tas, lantas memasukkannya dengan rapi ke dalam sebuah pouch, tak lupa, ia juga mengecek saldo di rekeningnya. Gadis dalam balutan kemeja putih dan celana bahan berwarna krem itu semringah menatap nominal yang semakin hari semakin bertambah.
Jerih payahnya selama dua tahun ini telah cukup untuk mendapatkan self reward yang begitu diimpikan olehnya sedari tahun pertama bekerja di sini. Ia juga ingin merasakan tidak kepanasan saat berangkat bekerja atau sewaktu sang atasan menyuruhnya untuk mengantar produk pada koleganya di siang hari yang terik dan tidak perlu repot memakai jas sewaktu hujan turun.
“Halo, Dit, lusa temenin kakak cari mobil, ya. Kamu jangan nongkrong sama teman-teman, loh,” titah sang kakak agar sang adik, Dito, mengosongkan waktunya.
“Serius kakak mau beli mobil? Baru atau bekas?”
“Alhamdulillah ada rezeki. Kakak udah nabung dari tahun lalu, juga. Kita beli yang baru aja,” jawabnya dengan senyum terulas mendengar intonasi suara sang adik.
“Keren! Pantas aja waktu itu kakak menyuruhku kursus setir mobil.” Laki-laki bertubuh ramping itu merekam ulang jejak beberapa bulan sebelumnya.
Kali ini dia tertawa. “Kakak sengaja nggak beritahu kamu dulu, biar surprise.” Ia beranjak dari ruang kerjanya karena melihat ojek online pengantar makanan parkir di teras toko. “Eh, tapi kamu jangan bilang dulu sama bunda dan ayah, biar surprise pas kita datang bawa mobil ke rumah mereka. Awas, ya, kalau bocorin rencana ini.” Ultimatumnya seraya mengambil plastik yang disodorkan oleh sang pengemudi.
Setelah mengakhiri percakapan di gawai. gadis itu membuka grup yang berisi empat orang teman perempuan termasuk dirinya dan mengirim chat pada mereka, ‘Guys, nanti malam kita party, yuk. Aku yang traktir!’.
**
Fazia menatap semringah pada shopping bag yang berisi beberapa pasang sneakers, heels, alat make up dan tentunya perhiasan yang dibelinya semalam dan belum sempat dibuka olehnya. Dengan malas, ia menaruh gawai di ranjang dan beranjak, tetapi selang beberapa menit, notifikasi dari gawainya datang bertubi-tubi. “Tumben, ramai banget?!” gumamnya meraih gawainya.
Unggahan video mobil barunya dikomentari hampir seribu orang. Raut wajahnya memucat saat membaca satu-persatu hujatan yang ditujukan padanya. “Mereka siapa, sih? Kok, bisa-bisanya berkomentar begini?” Ia membuka beberapa profil media sosial yang melontarkan kalimat sangat kasar sambil mengingat-ingat siapa orang yang terpampang di salah satu unggahan fotonya.
Notifikasi dari media sosialnya pun semakin massive. Napas Fazia terasa sesak membaca kembali hujatan demi hujatan yang datang. “Bagaimana mereka tahu soal ini?” gumamnya menggigit bibir. Lalu, ia membuka media sosial sang atasan karena beberapa orang tersebut menyebutkan akun miliknya.
“Astaga!!” Ia membuka story yang diunggah sang sahabat, bahkan di-mention padanya. Fazia terduduk lemas di tepi ranjang menatap rentetan screenshot story close friend miliknya terpapang di sana. “Dia tahu soal ini? Kenapa nggak langsung bilang padaku, sih? Malah posting di medsos begini!” gadis itu berdecak kesal.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya. “Kak, ada pak RT dan beberapa polisi datang juga kakaknya Kak Almira. Kakak melakukan apa di toko?” suara sang adik terdengar gentar. Perut Fazia seakan melilit, wajahnya semakin pucat pasi. Yang terlintas dalam benaknya sekarang hanyalah, ‘Bagaimana ia menghadapi para polisi dan kakak Almira di luar?’
Beberapa menit kemudian, tercetus sebuah ide dalam benaknya, ia akan berpura-pura bodoh dan berdalih atas tuduhan apa pun yang diberikan padanya. Gadis itu menarik dan mengembuskan napas panjang tanpa menjawab pertanyaan sang adik. Sementara, sang adik terpekur saat Fazia memberikan gawai padanya.
Tampak, sang kakak dari sahabatnya menepis uluran tangan Fazia saat hendak menyalaminya. Gadis itu menyugar rambut saat salah satu polisi yang memegang berkas bertanya padanya dengan tatapan penuh selidik. Gadis yang masih mengenakan pakaian tidur itu sedikit gemetar karena ia menangkap tatapan penuh intimidasi dari gadis berambut bob berwarna chestnut.
“Sekarang saya tanya dari mana kamu bisa beli mobil dan barang-barang mahal yang ada di medsos?” cetus gadis itu.
“Dari ayah tiri aku, Kak. Kalau barang rata-rata dari pacarku,” jawabnya meminimalisir kecemasan yang menggerogoti relung jiwanya.
“Termasuk liburan ke Bali?”
“Kalau liburan dari ayah tiriku,” ucapnya.
“Terus kenapa laporan keuangan yang kamu berikan pada adik saya bisa selisih sampai ratusan juta?!” ujarnya sengit. “Adik saya juga bikin jurnal keuangannya sendiri dan nyatanya toko rugi terus, dia sampai punya hutang agar bisa membeli produk untuk stok di toko. Sangat nggak masuk akal, banyak produk yang terjual, tapi pemasukan malah minus!” paparnya.
“Tapi setiap ada pembelian produk dan uang masuk, aku selalu langsung catat, Kak,” alasannya. Ia menoleh ke arah pagar rumah, terlihat para tetangga berkerumun di depannya. Pak RT yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama, beranjak dari kursinya dan menemui warga.
“Semoga bunda dan ayah nggak tahu berita ini,” batin Fazia. Tak lama kemudian, sang polisi memberikan rekaman CCTV pada Fazia.
“Sebaiknya anda mengakui saja. Rekaman itu bukti yang jelas kalau anda memasukkan uang hasil penjualan ke dalam tas anda.”
Fazia membisu dan menggerutu dalam hati, dia tidak berpikir kalau sahabatnya itu akan mengecek CCTV karena telah menaruh kepercayaan penuh padanya dan ia juga tak bisa berkelit lagi saat gadis berambut bob itu memperlihatkan rekaman video dari seorang fake buyer yang diutus sang adik saat ia merasa banyak kejanggalan di tokonya. “Mau ngomong apa lagi kamu? Asal kamu tahu,ya, kasus ini udah diviralkan di medsos!” kecam gadis itu. Lalu, dering gawainya mengudara dan Dito mengatakan kalau sang ibu yang berada di panggilan masuk itu.
***
Komentar
Posting Komentar